Jan
12

Ip Man dan Kenangan Masa Kecil


image
by admin
posted in Uncategorized
No comments yet

 

Liburan tahun baru yang lalu, banyak film yang ditawarkan sebagai hiburan akhir tahun untuk ditonton bersama keluarga, dari film Hollywood seperti Star Wars, film nasional ‘Negeri Van Orange’ dan film Mandarin ‘Ip Man 3’.

Dari beberapa pilihan yang ada, akhirnya kami memilih ‘Ip Man 3’ untuk kami saksikan bersama. Film yang mengisahkan kehidupan tokoh nyata, seorang grand master kungfu aliran Wing Chun, yang juga guru dari bintang legendaris Bruce Lee, kami pilih karena beberapa alasan.

Alasan pertama adalah kami telah menyaksikan seri pertama dan keduanya, maka kurang afdol rasanya jika tidak menyaksikan seri ketiganya.

Kedua, karena ada mantan juara dunia legendaris, Mike Tyson si ‘Leher Beton’ ikut berperan di film itu, dan ini merupakan debut Mike Tyson di dunia entertain (film)

Ketiga, ini alasan pribadi saya saja, saya ingin bernostalgia. Waktu kecil dulu saya sering diajak Bapak saya nonton film Chen Lung (Jackie Chan) yang tentunya menjadi momen yang takkan pernah saya lupakan.

Menonton film kungfu saat saya kecil memang momen yang cukup langka, karena waktu itu belum banyak sarana hiburan seperti sekarang, dimana waktu itu hanya ada TVRI yang mulai main jam 16.30 sampai jam 22.30 WIB. Apalagi di sebuah kota kecil di pesisir pantura, hanya ada 2 bioskop kecil yang memutar film yang sama, hanya beda jam (sekitar satu jam).

Kedua bioskop itu adalah Subur dan Sanjaya. Konon kedua bioskop itu dimiliki oleh orang yang sama, atau setidaknya masih satu keluarga. Karena itulah film yang diputar pun sama. Jadi satu film ada 2 roll, jika satu roll sudah selesai maka roll tersebut akan dibawa menggunakan sepeda dari Subur ke Sanjaya. Saya cukup paham proses ini karena setiap hari sang ‘transporter’ selalu melintasi rumah saya.

Jangan dibayangkan suasana bioskop seperti XXI yang nyaman, kedua bioskop itu tidak dilengkapi AC, kursinya juga kursi besi (bahkan di bioskop Subur menggunakan kursi lipat). Tak ada nomor tempat duduk, jadi berlaku hukum ‘siapa cepat dia dapat’, dan tak ada batasan karcis, artinya jika tidak kebagian tempat duduk ya mesti berdiri…

Dan seiring waktu, karena sarana pendingin hanya menggunakan kipas angin yang tidak proporsional dengan jumlah penonton, saat film sudah berlangsung sekitar satu jam, maka akan tercium aroma khas…keringat.

Tarifnya pun masih sangat terjangkau, hanya 500 rupiah per orang. Bahkan pada hari Minggu ada pertunjukan ‘Extra Show’ setiap jam 12 siang yang tiketnya hanya 250 rupiah, memutar film yang sudah pernah diputar beberapa waktu sebelumnya.

Momen paling menyenangkan bagi para pengusaha bioskop adalah jika ada film ‘Cina ngamuk’ atau ‘Filem Dono’, juga filem ‘Oma’ (Rhoma Irama), karena bisa dipastikan penonton akan membludak. Tidak ada pengaturan antrian di loket menambah dramatis proses pembelian tiket. Sehingga bisnis calo tiket pun menjadi cukup menggiurkan.

Ketika ada film Cina ngamuk, saya bisa ikut berbahagia karena Bapak saya penggemar cerita silat. Jadi saya, kakak saya dan Bapak, kami bertiga berbecak ria ke bioskop Subur untuk menonton Chen Lung.

Itulah romansa kami, anak-anak di kota kecil yang mudah dibahagiakan, hanya dengan menonton film satu Chen Lung, efek bahagianya bisa tahan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.

Saat menonton film ‘Ip Man 3’ kemarin, kenangan-kenangan  manis masa kecil itu hadir kembali nyaris secara utuh. Teringat jelas kesedihanku saat Bapak ‘menghilang’ dalam kehebohan membeli tiket, sampai Mas Agus, kakakku harus menenangkanku yang terisak karena ‘kehilangan’ Bapak.

Alhamdulillah, saat ini anak-anak kita bisa dengan mudah mendapatkan hiburan dengan nyaman, di bioskop yang wangi, kursi yang empuk dan tata suara yang canggih.

Agar tetap terjaga ‘sensasi’ nonton di bioskop, kami tidak terlalu sering menonton di bioskop, hanya jika ada film yang benar-benar ‘must see’, atau momen tertentu seperti tahun baru kemarin.

Kegiatan nonton bareng keluarga bisa juga diadakan di rumah, karena kualitas audio visual saat ini juga sudah cukup memadai. Dengan mensetting rumah kita agar nyaman, misalnya dengan menggelar karpet di depan tivi lalu rame-rame nonton film keluarga, tentunya akan menambah keakraban seluruh anggota keluarga.



Post Your Comment
Your Name
Your E-mail

Comment